|
Mataram, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Ahad (9/9) lalu,
mencanangkan program percepatan swasembada daging bersama-sama 19
pemerintah daerah penghasil utama ternak di Indonesia. Acara tersebut
berlangsung di komplek Balai Laboratorium Produksi dan Kesehatan Hewan
di Desa Banyumulek Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat, Nusa
Tenggara Barat.
Hadir bersama Mentan dalam acara tersebut Dirjen Peternakan Deptan
Mathur Riyadi, Gubernur NTB Lalu Serinata, Kadis Peternakan NTB Abdul
Muthalb serta para pejabat utusan 18 pemda yang menjadi sentra produksi
peternakan di Indonesia. Upaya percepatan ini guna mengurangi defisit
sapi potong dan daging yang setiap tahunnya mengimpor 450 ribu sapi
dari Australia dan Selandia Baru.
Dalam arahannya, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengungkapkan
keberhasilan swasembada daging sangat ditentukan oleh beberapa faktor.
Pertama, semakin luas dan banyaknya usaha pembibitan sapi pedaging.
Dengan makin banyaknya pembibitan dilakukan, baik di tingkat provinsi
maupun kabupaten di seluruh Indonesia, maka akan sangat mungkin
menambah jumlah ternak yang ada.
Kedua, lanjut Mentan, adanya
sinergi dan saling mendukung antara peternakan rakyat dan swasta.
"Peternakan rakyat dan swasta harus digalakkan, kalau kita memang mau
mandiri," tegas Mentan.
Dalam hal ini, Mentan mengakui bila masih ada keengganan pihak
swasta untuk terjun ke bisnis peternakan ini. "Memang harus diakui ada
kendala dari pihak swasta terkait dengan persoalan permodalan. Pihak
perbankan masih belum banyak yang tertarik untuk memberi kredit di
sektor ini," papar Mentan.
Oleh karena itu, Mentan menyebut pihaknya
tengah mengupayakan adanya subsidi yang lebih besar lagi guna memacu
usaha agribisnis di sektor peternakan, khususnya di bidang perbibitan.
"Kita sebenarnya sudah menyurati Menteri Keuangan terkait dengan hal
ini. Namun, sampai sekarang belum ada respon dari beliau," jelas Mentan.
Faktor ketiga, ungkap Mentan, adalah masih belum memadainya lahan
penggembalaan bagi sapi-sapi yang dimiliki para petani dan pengusaha.
Karenanya, menurut Mentan, pihak pemerintah daerah perlu mengalokasikan
lahan-lahan tidurnya untuk menjadi lahan penggembalaan. "Di sini memang
perlu sekali kita memberdayakan potensi lokal guna mengatasi persoalan
tersebut," ujar Mentan.
Menurut Mentan, kendati swasembada tercapai
namun tak mungkin kran impor ditutup rapat-rapat. "Dalam perdagangan
global seperti sekarang ini, tak mungkin kita menutup arus masuknya
ternak dari negara lain ke negeri kita. Apalagi, kita masih membutuhkan
sapi-sapi bakalan yang menjadi sumber dari bibit sapi kita," jelas
Mentan.
Dengan pertimbangan itu, Mentan memperkirakan saat swasembada
tercapai sesungguhnya Indonesia masih membutuhkan impor yang jumlahnya,
kurang dari 10 % dari kebutuhan nasional.
Saat ini, populasi ternak
sapi dan kerbau di seluruh Indonesia mencapai 10,5 juta ekor. Setiap
tahunnya, tak kurang dari 220 ribu ekor dipotong guna memenuhi konsumsi
daging penduduk Indonesia.
Sementara dalam laporannya, Kepala Dinas
Peternakan Nusa Tenggara Barat (NTB) Abdul Muthalib mengemukakannya,
pelibatan 18 daerah sentra produksi utama ternak sapi se Indonesia
bersama NTB dimaksud sebagai langkah strategis dalam mengurangi
ketergantungan impor. "Ini dilakukan agar kalau pun impor pun hanya
lima persen saja," ujarnya.
NTB berada di urutan lima nasional dalam produksi ternak sapi dan
kerbau. Dalam setahunnya produksi sapi dan kerbau mencapai 110 ribu
ekor yang terdiri 78.000 ekor ternak potong dan 32.000 ekor ternak
bibit. Kelebihannya, 34.740 ekor sapi dan 9.965 ekor kerbau dikirimkan
ke 10 propinsi di Indonesia mulai dari Kalimantan Timur, Kalimantan
Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku,
Jambi, Jawa Timur, Jawa Barat dan DKI Jakarta. Terbanyak dikirim ke
Kalimantan dan seluruh transaksi ternak NTB nilainya Rp1,089 triliun
setahun. Adapun populasi ternak sapi di NTB mencapai 481.376 ekor,
kerbau 156.000 ekor, kambing 355.000 ekor. (***)
|