|
Mataram, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengajak masyarakat
florikultura untuk bermitra dan bersinergi mengembangkan keragaman
tanaman hias. "Keanekaragaman flora tanaman hias amat potensial
dikembangkan menjadi sumber devisa baru yang akan berdampak pada
pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah maupun level nasional," kata
Mentan dalam pembukaan Pekan Florikultura Nasional II 2007 di Mataram,
Senin (27/08).
Dalam sambutan yang dibacakan Dirjen Hortikultura Deptan Dr Ahmad
Dimyati, Mentan menjelaskan bahwa Indonesia pantas bersyukur punya
kekayaan hayati yang berlimpah. Sebagian merupakan flora tanaman hias
yang punya karekteristik dan morfologi unik dan bernilai ekonomi
tinggi. Dari sekian banyak species alam yang kita miliki, baru sedikit
yang sudah dibudidayakan. Sebagian besar lainnya masih tersimpan di
habitatnya.
Atas dasar itu, Mentan menyambut baik hadirnya Pekan Florikultura
Nasional (PFN) II di Mataram, 27-31 Agustus 2007. Diikuti 72 stand dari
15 propinsi dan 28 kabupatan/kota di Indonesia, acara ini merupakan
sarana komunikasi, promosi, pengembangan bisnis tananam hias, serta
wahana pendidikan bagi masyarakat. Mentan berharap PFN dapat berdampak
luas bagi kegiatan pengembangan usaha dan industri tanaman hias, yang
akhirnya memberi kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah
dan nasional.
Dengan tema tema nasional 'Meraih Devisa Melalui Ekspor Tanaman Hias' dan tema daerah 'Menggali dan Mengembangkan Potensi Daerah di Bumi Gora',
kata Mentan, "Saya harap kegiatan dan acara promosi ini bisa
menciptakan peluang pasar, menambah pengetahuan tentang preferensi
konsumen, serta terintroduksinya jenis, species , dan varitas hibrida
baru tanaman hias."
Sudah saaatnya, tambah Mentan, kita gali aneka keragaman hayati dan
flora yang kita miliki untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi tanpa
merusak habitatnya, tanpa menghabiskan ketersediaan. Sudah saatnya kita
gunakan berbagai sumberdaya yang ada untuk mendukung pengembangan
industri florakultura nasional. Melalui PFN diharapkan tersaji
berbagai materi sumber genetik florakultura yang dapat digunakan untuk
pengembangan industri tanaman hias secara komersial. Dengan demikian,
diharapkan tercipta idustri florakultura yang memili keunggulan
komparatif dan keunggulan kompetitif hingga mampu bersiang di pasar
internasional.
Pada saat ini, jelas Mentan, kegiatan florikultura sudah menjadi
sumber ekonomi yang cukup penting, berdampak nyata menciptakan lapangan
kerja, menjadi sumber pendapatan masyarakat, sumber devisa, dan
mendorong tumbuhnya industri penunjang. Ke depan, usaha dan industri
florikultura perlu didorong agar lebih berperan sebagai sumber devisa
di masa mendatang. Kegiatan florikultura perlu didorong dengan faslitas
regulasi dan kemudahan ekspor. "Pemerintah amat menghargai upaya swasta
dalam memajukan tanaman hias di Indonesia. Para asosasi atau
perhimpunan hendaknya bermitra dan bersinergi dengan pemerintah agar
hambatan-hambatan yang ada bisa dipecahkan bersama.
Mentan amat menghargai terlaksananya PFN yang berkesinambungan
setiap tahun berkat kerjasama antara perusahaan dan intansi terkait,
seperti Ditjen Hortilkultura Deptan, pemerintah daerah, dinas
kehutanan, dinas pariwisata dan pihak-pihak terkait lainnya. "Saya
berharap pameran dan promosi bisa berkelanjutan, diikuti daerah-daerah
lain, serta ditingkatkan hingga bisa tampil di forum internasional.
Berjaya tidak hanya pada tingkat lomba, juga dalam melahirkan produk
bermutu dalam jumlah massal. Saya menghimbau pelaku usaha dan pemda
terkait agar kegiatan promosi luar negeri bisa dimanfatkan agar
produk-produk florikulturs kita bisa bersaing dan merebut pangsa pasar
global."
Selain pameran, pada PFN 2007 di Mataram juga diselenggarakan
beberapa kompetisi antara usaha perorangan dan lembaga, serta kegiatan
seminar yang menghadirkan sejumlah narasumber florikultura. Dirjen
Hortikultura dan Gubernur NTB Lalu Serinata pada kesempatan ini
menyampaikan piala dan penghargaan kepada pemenang lomba taman antar
kantor dan lomba taman antar sekolah untuk tingkat SD, SMP dan SLTA.
(Tim Media)
|