Silahkan Pilih Style Anda Style 3 Style 2 Style 1
 
  • Lab. BPMA

    Mengembangkan dan memfasilitasi
    laboratorium pengujian alsintan...
    Learn more...
  • LSPro

    Lembaga Sertifikasi Produk
    Alat dan Mesin Pertanian...
    Learn more...
  • Alsintan

    Yang Telah Diuji
    Learn more...
  • Form Online

    Formulir Permohonan Sertifikasi
    Produk Alsintan.
    Learn More...
Peningkatan Produktivitas Padi 5% per Tahun, Bukan Target Tanpa Dasar PDF Print E-mail

Jakarta - Dua tahun terakhir, di tengah berbagai bencana dan perubahan iklim yang demikian berat, alih fungsi lahan yang kian deras, petani dan seluruh pemangku kebijakan pertanian bekerja tanpa lelah. Beragam program intensifikasi dan ekstensifikasi dikerahkan guna menjaga ketersediaan, bahkan upaya meningkatkan produktivitas padi terus dilakukan. Penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, perlindungan terhadap hama dan penyakit, perbaikan pasca panen, hingga penyuluhan serta perluasan lahan, merupakan langkah-langkah yang terus disosialisasikan kepada para petani. Hasilnya, kendati beragam kendala menghadang, terjadi peningkatan produktivitas yang membanggakan hati.Bila target produksi pada pada 2007 mencapai 58,1 juta ton GKG (Gabah Kering Giling), maka hingga Oktober ini berdasar ARAM (Angka Ramalan) III yang dirilis BPS awal Nopember ini mencatat pencapaian 57,05 juta ton.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono masih optimis kekurangan produksi 1,05 juta ton dapat ditutupi dari hasil musim tanam ketiga.’’Kami masih optimis produksi akan mencapai target karena bantuan benih hibrida dan benih unggul umumnya direalisasikan pada musim tanam ketiga,’’ katanya kepada pers.Angka ARAM III 2007 tersebut, telah menorehkan prestasi tersendiri dengan kenaikan 4,76 % (setara 2,6 juta ton) dibandingkan dengan ATAP (Angka Tetap) 2006 yang mencapai 54,5 juta ton. Dari laporan BPS, hasil ARAM II 2007 saja telah melampaui ATAP 2006 karena mencapai 55, 1 juta ton (selengkapnya lihat tabel)Tabel Perbandingan ARAM III 2007, ARAM II 2007, dan ATAP 2007 untuk Padi*)Produksi (ton) ARAM III 2007 ARAM II 2007 ATAP 2006 ARAM III 2007 thd ATAP 2006 Padi: 57.048.558 55.127.430 54.454.937 2.593.621 (Naik 4,76 %)Padi Sawah 54.114.142 52.249.233 51.647.490 2.466.652 (Naik 4,78%)Padi Ladang 2.934.416 2.878.197 2.807.447 126.969 (Naik 4,52%)Sumber BPS 2007.*) GKG = Gabah Kering GilingKeberhasilan ini tentu bukan kerja satu dua pihak saja. Menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono, hasil tersebut adalah kerja keras semua komponen yang memiliki kepedulian terhadap ketahanan pangan di negeri ini. ‘’Petani, ormas petani, LSM, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat serta media massa bahu membahu dalam mewujudkan ketahanan pangan negeri kita.

Mari kita teruskan keberhasilan ini dengan menargetkan peningkatan produktivitas 5% tahun depan sehingga target produksi menjadi 61 juta ton GKG,’’ tegas Anton.Bahkan, dalam catatan Dirjen Tanaman Pangan Deptan Sutarto Ali Moeso, kenaikan tahun ini merupakan kenaikan terbesar sepanjang 5 tahun terakhir. ‘’ATAP 2003 tercatat 52,1 juta ton, kemudian ATAP 2004 naik menjadi 54, 1 juta ton, ATAP 2005 naik sedikit menjadi 54,2 juta ton. Terakhir, ATAP 2006 naik sedikit juga menjadi 54,5 juta ton. Kesemuanya, kenaikan kurang dari satu persen. Hanya tahun ini yang kenaikannya mencapai 5 %,’’ jelas Sutarto. Dalam kaitan itu, Mentan Anton juga memastikan tahun 2007 ini Indonesia mengalami surplus beras karena adanya kenaikan sebesar 1,64 juta ton. Kendati baru 80% dari target P2BN (Peningkatan Produksi Beras Nasional) tercapai, namun jumlah ini cukup memberi rasa aman karena kebutuhan cadangan untuk konsumsi beras nasional mencapai 1 juta ton. Selain itu, guna menjaga stok pemerintah harus tersedia 1 juta ton lagi. Kekurangan dari produksi nasional tersebut, sejatinya telah dipenuhi oleh impor tahun ini.Berdasar hitungan inilah, Mentan Anton kemudian meminta kepada Bulog untuk tak melanjutkan impor berasnya. Alasan Mentan sederhana saja. ‘’Apabila produksi dalam negeri melimpah dan beras impor terus dimasukkan, harga beras akan jatuh begitu juga dengan harga gabah,’’ jelasnya.Kerugian di tingkat petani menjadi satu perhatian khusus Anton sejak mendapat amanah Menteri Pertanian RI. Karenanya, tak heran bila di awal-awal kepemimpinannya, ia gigih untuk menolak hadirnya beras impor di negeri ini. Hanya karena lonjakan harga yang luar biasa dan adanya kekhawatiran efek ikutan dari persoalan beras yang akan mengguncang perekonomian bangsa, ia akhirnya bisa menerima impor tersebut dilakukan.Kini dengan kondisi semakin stabil, baik di tingkat produksi maupun harga, Mentan Anton Apriyantono mencoba mengajak Bulog untuk mendukung keberpihakan kepada petani lewat menekan jatuhnya harga beras maupun gabah. Kendati tak secara tegas menerima himbauan Mentan, Dirut Bulog Mustafa Abu Bakar membenarkan bila stok beras dalam kondisi aman dan adanya surplus.

Oleh karena itu, Mustafa kepada pers di Jombang, Jawa Timur beberapa waktu lalu, memastikan bila impor beras pada 2008 akan turun tak lagi seperti tahun ini yang mencapai realisasi 1,1 juta ton. ‘’Kita yakin Indonesia akan memasuki swasembada pangan pada 2009 dan pada 2010 ditargetkan bisa mengekspor beras,’’ tegas Mustafa.Harapan Mustafa bukan tanpa dasar. Dengan target kenaikan 5% per tahunnya, upaya P2BN setidaknya menghadirkan optimisme. ‘’Kalau tahun ini sudah naik hampir 5 % dan tahun depan juga naik 5% menjadi 61 juta ton, maka apa yang disampaikan Pak Mustafa bakal jadi kenyataan. Insya Allah, bahkan bisa lebih cepat,’’ ujar Mentan Anton Apriyantono.Peningkatan produksi tersebut, menurut Anton, didukung adanya perluasan areal lahan sebesar 330.000 hektar dan penggunaan benih bermutu. Anton mengakui bila tahun ini penyaluran benih mengalami keterlambatan. Namun, dengan penyaluran benih lewat pemerintah daerah yang memiliki cadangannya, upaya pemberian benih bermutu sebagian besar terealisir.Jadi, lanjut Anton, bisa dibayangkan dengan penyaluran bantuan benih yang tak mencapai 100 % saja terjadi kenaikan produksi 5%, maka bila seluruh bantuan benih bisa disalurkan maka produksi padi Indonesia bisa meningkat hingga 10 %. ‘’Artinya, target 61 juta ton bukan hal yang mengada-ada. Insya Allah, dengan kerja keras kita semua target itu tercapai dan mudah-mudahan target tambahan 2 juta ton lewat P2BN juga bisa terlampaui,’’ tegas Anton.Satu hal lagi yang kini menjadi titik perhatian dalam menambah kenaikan produktivitas padi, Mentan mengajak Bulog menggarap program Gerakan Penanganan Pasca Pangan dan Pemasaran Gabah/Beras (GP4GB). Lewat program ini diharapkan, potensi kehilangan gabah setiap kali panen tiba dapat ditekan.

Dalam catatan Deptan potensi gabah hasil panen yang hilang secara nasional tak kurang dari 20,5 % atau setara 11,6 juta ton GKG bila produksi nasional mencapai 57 juta ton GKG. Jika hal itu bisa ditekan 2,5% menjadi 18 persen saja, maka akan diperoleh tambahan produksi 1,45 juta ton GKG. Pemerintah, menurut Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Djoko Said Darmadjati, telah mengalokasikan dana Rp 71,41 miliar guna pengadaan alat dan mesin pasca panen seperti sabit bergerigi, pedal tresher, power tresher, mesin pengering, RMU (Rice Milling Unit) atau unit pengolah padi. Kesemuanya itu, lanjut Djoko, bakal disebar ke 72 kabupaten di 17 provinsi yang ada di Indonesia. ****Tabel Produksi Padi Indonesia 2003-2007Tahun Produksi (Ton) Pertimbuhan Produksi (%)2003 52.137.604 1,262004 54.088.468 3,742005 54.151.097 0,122006 54.454.937 0,562007 57.048.558 4,47

 
< Prev   Next >