|
Jakarta - Dua tahun terakhir, di tengah
berbagai bencana dan perubahan iklim yang demikian berat, alih fungsi
lahan yang kian deras, petani dan seluruh pemangku kebijakan pertanian
bekerja tanpa lelah. Beragam program intensifikasi dan ekstensifikasi
dikerahkan guna menjaga ketersediaan, bahkan upaya meningkatkan
produktivitas padi terus dilakukan. Penggunaan benih unggul, pemupukan
berimbang, perlindungan terhadap hama dan penyakit, perbaikan pasca
panen, hingga penyuluhan serta perluasan lahan, merupakan
langkah-langkah yang terus disosialisasikan kepada para petani.
Hasilnya, kendati beragam kendala menghadang, terjadi peningkatan
produktivitas yang membanggakan hati.Bila target produksi pada pada
2007 mencapai 58,1 juta ton GKG (Gabah Kering Giling), maka hingga
Oktober ini berdasar ARAM (Angka Ramalan) III yang dirilis BPS awal
Nopember ini mencatat pencapaian 57,05 juta ton.
Menteri Pertanian
Anton Apriyantono masih optimis kekurangan produksi 1,05 juta ton dapat
ditutupi dari hasil musim tanam ketiga.’’Kami masih optimis produksi
akan mencapai target karena bantuan benih hibrida dan benih unggul
umumnya direalisasikan pada musim tanam ketiga,’’ katanya kepada
pers.Angka ARAM III 2007 tersebut, telah menorehkan prestasi tersendiri
dengan kenaikan 4,76 % (setara 2,6 juta ton) dibandingkan dengan ATAP
(Angka Tetap) 2006 yang mencapai 54,5 juta ton. Dari laporan BPS, hasil
ARAM II 2007 saja telah melampaui ATAP 2006 karena mencapai 55, 1 juta
ton (selengkapnya lihat tabel)Tabel Perbandingan ARAM III 2007, ARAM II
2007, dan ATAP 2007 untuk Padi*)Produksi (ton) ARAM III 2007 ARAM II
2007 ATAP 2006 ARAM III 2007 thd ATAP 2006 Padi: 57.048.558 55.127.430
54.454.937 2.593.621 (Naik 4,76 %)Padi Sawah 54.114.142 52.249.233
51.647.490 2.466.652 (Naik 4,78%)Padi Ladang 2.934.416 2.878.197
2.807.447 126.969 (Naik 4,52%)Sumber BPS 2007.*) GKG = Gabah Kering
GilingKeberhasilan ini tentu bukan kerja satu dua pihak saja. Menurut
Menteri Pertanian Anton Apriyantono, hasil tersebut adalah kerja keras
semua komponen yang memiliki kepedulian terhadap ketahanan pangan di
negeri ini. ‘’Petani, ormas petani, LSM, pemerintah daerah, dan
pemerintah pusat serta media massa bahu membahu dalam mewujudkan
ketahanan pangan negeri kita.
Mari kita teruskan keberhasilan ini
dengan menargetkan peningkatan produktivitas 5% tahun depan sehingga
target produksi menjadi 61 juta ton GKG,’’ tegas Anton.Bahkan, dalam
catatan Dirjen Tanaman Pangan Deptan Sutarto Ali Moeso, kenaikan tahun
ini merupakan kenaikan terbesar sepanjang 5 tahun terakhir. ‘’ATAP 2003
tercatat 52,1 juta ton, kemudian ATAP 2004 naik menjadi 54, 1 juta ton,
ATAP 2005 naik sedikit menjadi 54,2 juta ton. Terakhir, ATAP 2006 naik
sedikit juga menjadi 54,5 juta ton. Kesemuanya, kenaikan kurang dari
satu persen. Hanya tahun ini yang kenaikannya mencapai 5 %,’’ jelas
Sutarto. Dalam kaitan itu, Mentan Anton juga memastikan tahun 2007 ini
Indonesia mengalami surplus beras karena adanya kenaikan sebesar 1,64
juta ton. Kendati baru 80% dari target P2BN (Peningkatan Produksi Beras
Nasional) tercapai, namun jumlah ini cukup memberi rasa aman karena
kebutuhan cadangan untuk konsumsi beras nasional mencapai 1 juta ton.
Selain itu, guna menjaga stok pemerintah harus tersedia 1 juta ton
lagi. Kekurangan dari produksi nasional tersebut, sejatinya telah
dipenuhi oleh impor tahun ini.Berdasar hitungan inilah, Mentan Anton
kemudian meminta kepada Bulog untuk tak melanjutkan impor berasnya.
Alasan Mentan sederhana saja. ‘’Apabila produksi dalam negeri melimpah
dan beras impor terus dimasukkan, harga beras akan jatuh begitu juga
dengan harga gabah,’’ jelasnya.Kerugian di tingkat petani menjadi satu
perhatian khusus Anton sejak mendapat amanah Menteri Pertanian RI.
Karenanya, tak heran bila di awal-awal kepemimpinannya, ia gigih untuk
menolak hadirnya beras impor di negeri ini. Hanya karena lonjakan harga
yang luar biasa dan adanya kekhawatiran efek ikutan dari persoalan
beras yang akan mengguncang perekonomian bangsa, ia akhirnya bisa
menerima impor tersebut dilakukan.Kini dengan kondisi semakin stabil,
baik di tingkat produksi maupun harga, Mentan Anton Apriyantono mencoba
mengajak Bulog untuk mendukung keberpihakan kepada petani lewat menekan
jatuhnya harga beras maupun gabah. Kendati tak secara tegas menerima
himbauan Mentan, Dirut Bulog Mustafa Abu Bakar membenarkan bila stok
beras dalam kondisi aman dan adanya surplus.
Oleh karena itu, Mustafa
kepada pers di Jombang, Jawa Timur beberapa waktu lalu, memastikan bila
impor beras pada 2008 akan turun tak lagi seperti tahun ini yang
mencapai realisasi 1,1 juta ton. ‘’Kita yakin Indonesia akan memasuki
swasembada pangan pada 2009 dan pada 2010 ditargetkan bisa mengekspor
beras,’’ tegas Mustafa.Harapan Mustafa bukan tanpa dasar. Dengan target
kenaikan 5% per tahunnya, upaya P2BN setidaknya menghadirkan optimisme.
‘’Kalau tahun ini sudah naik hampir 5 % dan tahun depan juga naik 5%
menjadi 61 juta ton, maka apa yang disampaikan Pak Mustafa bakal jadi
kenyataan. Insya Allah, bahkan bisa lebih cepat,’’ ujar Mentan Anton
Apriyantono.Peningkatan produksi tersebut, menurut Anton, didukung
adanya perluasan areal lahan sebesar 330.000 hektar dan penggunaan
benih bermutu. Anton mengakui bila tahun ini penyaluran benih mengalami
keterlambatan. Namun, dengan penyaluran benih lewat pemerintah daerah
yang memiliki cadangannya, upaya pemberian benih bermutu sebagian besar
terealisir.Jadi, lanjut Anton, bisa dibayangkan dengan penyaluran
bantuan benih yang tak mencapai 100 % saja terjadi kenaikan produksi
5%, maka bila seluruh bantuan benih bisa disalurkan maka produksi padi
Indonesia bisa meningkat hingga 10 %. ‘’Artinya, target 61 juta ton
bukan hal yang mengada-ada. Insya Allah, dengan kerja keras kita semua
target itu tercapai dan mudah-mudahan target tambahan 2 juta ton lewat
P2BN juga bisa terlampaui,’’ tegas Anton.Satu hal lagi yang kini
menjadi titik perhatian dalam menambah kenaikan produktivitas padi,
Mentan mengajak Bulog menggarap program Gerakan Penanganan Pasca Pangan
dan Pemasaran Gabah/Beras (GP4GB). Lewat program ini diharapkan,
potensi kehilangan gabah setiap kali panen tiba dapat ditekan.
Dalam
catatan Deptan potensi gabah hasil panen yang hilang secara nasional
tak kurang dari 20,5 % atau setara 11,6 juta ton GKG bila produksi
nasional mencapai 57 juta ton GKG. Jika hal itu bisa ditekan 2,5%
menjadi 18 persen saja, maka akan diperoleh tambahan produksi 1,45 juta
ton GKG. Pemerintah, menurut Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Pertanian Djoko Said Darmadjati, telah mengalokasikan dana Rp 71,41
miliar guna pengadaan alat dan mesin pasca panen seperti sabit
bergerigi, pedal tresher, power tresher, mesin pengering, RMU (Rice
Milling Unit) atau unit pengolah padi. Kesemuanya itu, lanjut Djoko,
bakal disebar ke 72 kabupaten di 17 provinsi yang ada di Indonesia.
****Tabel Produksi Padi Indonesia 2003-2007Tahun Produksi (Ton)
Pertimbuhan Produksi (%)2003 52.137.604 1,262004 54.088.468 3,742005
54.151.097 0,122006 54.454.937 0,562007 57.048.558 4,47
|